<<
BERITADPP GOLKAR

Akbar Tandjung, Partai Golkar dan Reformasi Politik

Berita Golkar –  Iring-iringan mobil yang membawa Bang Akbar beserta rombongan elite Golkar, mendadak berhenti di tengah jalan perkampungan. Mobil itu terhalang kerumunan orang yang sibuk mendirikan tenda hingga menutupi bahu jalan. Rupanya, kerumunan itu kata polisi yang mengawal, karena ada warga yang meninggal. Mendapati kabar itu, Akbar pun turun mobil lalu bergegas menuju kediaman warga yang berduka. Sontak, warga yang berkerumun nampak kaget mendapati kedatangan Akbar. Setelah menemui keluarga yang berduka, Akbar menyatakan pamit. “Bapak-Ibu semua, kami pamit ke Jakarta, maturnuwun”, sapa Akbar.

Peristiwa itu, terjadi secara spontan, tatkala saya mendampingi Bang Akbar dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR, dalam perjalanan usai mengunjungi korban bencana tanah longsor di Desa Tlitir, Purworejo, Jawa Tengah tahun 2004.

*
Djanji Akbar Zahiruddin Tandjung, adalah nama lengkap Akbar pemberian Ayahnya, Zahiruddin Tandjung. Lahir di Sorkam, Tapanuli Tengah,14 Agustus 1945. Hari ini, Jumat 14 Agustus 2020, Akbar genap berusia 75 tahun. “Djanji Akbar” yang melekat pada namanya itu, berhubungan erat dengan kehendak mewujudkan janji ayahnya berkenaan dengan peristiwa besar bangsa Indonesia pada dekade 1940-an. Tatkala Akbar masih dalam kandungan, sang ayah mendengar kabar dipanggilnya dua tokoh besar, yakni Soekarno dan Mohammad Hatta oleh Jepang, untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia.

Dari situlah tercetus keinginan, manakala Indonesia benar-benar merdeka dari kekuasaan Jepang, maka apabila anak yang lahir itu laki-laki, akan diberi nama Djanji Akbar, yang bermakna “janji besar”. Ternyata, tiga hari kemudian setelah kelahiran Akbar, dwitunggal Soekarno-Hatta mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, di Pegangsaan Timur, Jakarta (Anwari: 2005).

Jika dianalogikan, sosok Akbar layaknya buku yang didalamnya tertera “teks” tentang politik sebagai tindakan praktis, ungkap Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB. Akbar adalah cermin “begawan politik”, menjadi role model bagi kebanyakan politisi, ujarnya. Pengakuan itu, sangat beralasan. Pasalnya, jika menyimak dari rekam jejaknya, Akbar menggeluti dunia politik dan pergerakan sejak muda. Jadi, tak berlebihan apabila pada sosok Ketua Dewan Kehormatan Golkar ini, terekspresi beragam pengalaman dan kepiawaian tentang bagaimana politik didayagunakan sebagai seni dari berbagai kemungkinan.

Personalitas Politik

Tokoh berdarah batak ini, lebih terkesan sebagai seorang Jawa yang santun. Selain dikenal ulet, tekun, dan pekerja keras – Akbar adalah tipikal politisi dengan karakter kepemimpinan politik yang tenang dan rendah hati. Laksana air yang mengalir tenang, ucapan dan tindakan politiknya terukur, jauh memicu gaduh. Personalitas politik inilah, ungkap J Kristiadi, yang membuat Akbar mampu menyelamatkan Golkar dari situasi yang sangat kritikal kala kejatuhan Orde Baru.

Baca Juga :  Dua Partai Besar PKB-Golkar di Trenggalek Koalisi, Usung Bacabup Alfan-Zaenal

Akbar dan politik, bisa diibaratkan layaknya dua sisi keping mata uang. Politik, telah menjadi nafas dalam kehidupannya. Ia meyakini, upaya membangun masyarakat yang matang secara politis, sejatinya berkorelasi pada keberhasilan pembangunan ekonomi. Inilah mengapa, sebagian besar hidupnya Ia dedikasikan dalam politik.

Sejak muda, Akbar telah bergumul dengan dunia politik dan pergerakan. Ia berhasil memimpin berbagai organisasi bergengsi, mulai Senat UI, PB HMI, KNPI, hingga Pendiri Kelompok Cipayung. Demikian pula di pemerintahan, riwayat pengalaman Akbar terbilang paripurna. Ia memimpin berbagai Kementerian dikala Orde Baru, hingga Ketua DPR diawal reformasi. Fenomena Akbar, terasa menjadi kitrik potret kepemimpinan politik paca reformasi. Betapa politik kita hari ini, seloroh budayawan Mohamad Sobary, banyak dijejali “politisi kelas salon”– alias tak memiliki otentisitas pemikiran dan pengalaman tentang pemimpin dan kepemimpinan.

Penyelamat Golkar

Tatkala transformasi politik Indonesia mengalami pergeseran dari otoritarianisme menuju demokrasi, peran politik Akbar jelas tak bisa dikesampingkan – terutama sejak Ia memimpin Golkar. Kehadiran Akbar memimpin Golkar dalam fase yang paling dramatis selama kurun waktu 1998-2004. Secara internal, Golkar mengalami keretakan. Banyak diantara tokohnya berpindah dan mendirikan partai karena Golkar dianggap tak lagi menguntungkan secara politik. Disisi eksternal, gerakan pembusukan terhadap Golkar sebagai bagian Orde Baru berlangsung dengan kuatnya. Kunjungan Akbar bersama istrinya, Krisnina Maharani, dalam rangka konsolidasi Partai Golkar, terutama di Jawa – nyaris tak pernah luput dari ancaman amuk massa.

Dengan kepiawaian politiknya, Akbar tidak hanya berhasil menyelamatkan Golkar keluar dari kemelut politik – tetapi dengan cepat mampu mengkonsolidasikan kembali kekuatan Golkar. Pada pemilu pertama reformasi 1999, ketika banyak kalangan meramal Golkar bakal karam – Akbar berhasil membawa Golkar sebagai pemenang pemilu kedua setelah PDIP. Puncaknya pada pemilu 2004, layaknya seorang “maestro politik” – Akbar mengukir sejarah gemilang. Ia berhasil membawa Golkar memenangi pemilu yang berlangsung demokratis. Dan uniknya, sepanjang berlangsungnya pemilu di era reformasi, belum ada satupun yang mampu menandingi rekor Akbar kendati Golkar telah bergonta-ganti pucuk pimpinan. Maka, tak berlebihan apabila meminjam tesis Howard Gardner, Akbar telah menjadi the leader’s stories bagi Partai Golkar.

Baca Juga :  Puteri Politisi Golkar, Imelda Silahturahmi Dengan Pedagang Pasar

Kepiawaian Akbar sebagai politisi, terutama keberhasilannya memimipin Golkar – dapat dijelaskan pada dua pendekatan. Pertama, selain faktor pengalaman panjangnya sebagai aktivis, juga tak lepas dari personalitas Akbar sebagai sosok yang ulet, tekun, pekerja keras, dan kemampuan mengendalikan diri. Dikala memimpin Golkar dalam situasi kritis, Akbar dengan tekun dan tak kenal lelah terus melakukan konsolidasi. Ia melakukan semacam the long journey dari satu provinsi ke provinsi lain, dari satu kabupaten ke kabupaten lain untuk memompa kepercayaan diri kader Golkar agar tidak mengalami “demoralisasi”. Hingga kini, kendati kondisi fisiknya tak selincah dulu, kebiasaan menyambangi akar rumput terus dilakoninya. Ia rajin “blusukan” ke berbagai pelosok daerah, baik acara konsolidasi Golkar hingga pemateri dalam training organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan.

Kedua, dalam konteks pengelolaan partai – tentu tak lepas dari inovasi politik Akbar yang menekankan pada pembangunan demokrasi melalui perbaikan sistem dan kelembagaan. Ini tercermin pada spirit dicetuskannya paradigma baru, konvensi, dan koalisi kebangsaan. Sebagai manifesto politik, paradigma baru adalah wujud komitmen Golkar melakukan “pembaruan”. Pembaruan ini, dimaksudkan untuk meluruskan kekeliruan lama, yakni praktik oligarki yang menempatkan Golkar layaknya entitas “kepemilikan personal” yang jauh dari kepentingan publik.

Demikian halnya konvensi, ia diciptakan sebagai metode rekrutmen secara fair dan terbuka terhadap figur-figur terbaik untuk menjadi calon presiden dari Partai Golkar. Berkat konvensi itulah, elektabilitas Golkar kala itu terdongkrak, dan memacu mesin partai melaju lebih kencang. Jika saja konvensi itu dilembagakan, tentu akan memperkuat kelembagaan Partai Golkar sebagai basis perekrutan kepemimpinan nasional.

Sedangkan menyangkut koalisi kebangsaan, ada dua kepentingan mendasar yang hendak didorong Akbar. Pertama, ia dibentuk untuk menghadirkan stabilitas kekuasaan politik apabila calon presiden yang didukung itu memenangkan pertarungan. Kedua, sebagai upaya antisipatif apabila calon presiden yang didukung gagal, maka ia berfungsi sebagai kekuatan penyeimbang, checks and balances terhadap presiden melalui efektivitas peran parlemen. Selamat ulang tahun Bang Akbar. Wallahu’alam.

Tardjo Ragil: Peneliti Akbar Tandjung Institute

BERITA TERKAIT

Back to top button