LEGISLATIF

Fraksi Golkar Minta Pemerintah Daerah Buat Terobosan Masalah Air Bersih di Desa Melawen

0
Suplai air bersih dari PUPR di Desa Sungai Melawen Kecamatan Pangkalan Lada dua pekan lalu.

Berita Golkar – Kekeringan yang terjadi di Desa Sungai Melawen, Kecamatan Pangkalan Lada, mendapat tanggapan dari beberapa pihak.

Fraksi Partai Golkar melalui Juru Bicara Muhammad Syamsuri menyampaikan kepada pemerintah daerah agar wilayah tersebut mendapat perhatian.

“Pangkalan Lada pada umumnya dan Desa Sungai Melawen khususnya, ketika tidak hujan dua minggu atau satu bulan, maka sumur-sumur warga bisa kering. Pemerintah daerah kiranya bisa membuat terobosan agar desa bisa mendapatkan akses air bersih ketika musim kemarau,” pinta Muhammad Syamsuri.

Baca Juga :  Agar Tidak Terjadi Perilaku Koruptif, Dyah: Butuh Keterbukaan dalam Kampanyekan Aksi Lingkungan

Ia berharap melalui dinas teknis bisa melakukan langkah-langkah memperluas jaringan PDAM atau jalan lain dengan menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK).

“Harapan kami bisa diajukan melalui DAK untuk perluasan jaringan air bersih di Kecamatan Pangkalan Lada terutama di Desa Sungai Malawen yang dibangun secara permanen agar tidak terulang di tahun berikutnya,” kata Syamsuri.

Politikus Golkar ini memasukkan anggaran Rp 200 juta melalui dana pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD tahun 2024 untuk mendorong pemenuhan air bersih.

Dia berharap didukung pemda melalui dana DAK dari pusat. Menanggapi hal ini, Penjabat Bupati Kobar Budi Santosa menyampaikan bahwa persoalan tersebut akan ditangani lintas sektor.

Baca Juga :  Fraksi Golkar Apresiasi Capaian Realisasi Indeks Kesejahteraan Masyarakat APBN 2022

Berdasarkan data Desa Sungai Melawen, dari jumlah 870 kepala keluarga (KK) yang sumurnya masih bagus hanya berkisar 61 KK saja. Sisanya kering semua saat ini.

“Di desa kami, 87 persen sumur warga kering, untuk mencukupi kebutuhan air bersih warga terpaksa membeli air, sebagian mencari sumber air ke dataran rendah yang berdekatan dengan rawa atau sungai,” jelas Kepala Desa Sungai Melawen Muhammad Andik.

Sebagian warga harus membeli air dengan harga Rp 80 ribu – 90 Ribu per tower (ukuran 1.200 Liter).

Ia berharap hujan yang turun segera mampu mengisi sumur-sumur warga yang kering dan sumbernya kembali ada.