LEGISLATIF

Jaga Tradisi Peninggalan Leluhur, Fraksi Golkar DKI Peduli Budaya Betawi

0
Anggota Komisi A DRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Golkar, Khotibi Achyar.

Berita Golkar – Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta peduli terhadap budaya Betawi, dengan tetap menjaga tradisi peninggalan leluhur.

Anggota Komisi A DRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Golkar, Khotibi Achyar mengatakan, salah satunya Kampung Rawa Belong yang kini dikenal sebagai daerah penjual tanaman hias dan bunga. Meskipun berbeda dengan kondisi ratusan tahun silam.

“Dalam berbagai literatur, Rawa Belong terkenal karena di daerah ini terdapat ikon jago silat si Pitung,” kata Haji Beceng, sapaan akrab putra Betawi asal Cengkareng (Beceng) dilansir dari situs DPRD DKI.

Tak heran, Rawa Belong yang berada di wilayah Jakarta Barat itu menjadi salah satu daerah atau kampung yang masih melestarikan budaya Betawi.

Baca Juga :  Anggota Komisi VIII DPR RI F-Golkar minta Kemensos Perkuat Rehabilitasi Pascabencana

Seperti tradisi mencukur ranbut, aqiqah, mauludan, silat, dan upacara pernikahan.

Sebagian kecil orang Betawi yang masih bertahan memakai adat Betawi dalam pernikahan.

Dimulai dari kunjungan ke rumah mertua dengan membawa anteran, lamaran, tembakan mercon, lempar-lemparan mercon ke calon menantu hingga pesta pernihakan.

Begitu juga saat menjelang bulan suci Ramadhan, masih mengantarkan anteran (nyorok), berupa sirup, roti dan kurma. Saat bulan Ramadhan, anteran yang dibawa berupa kue pacar cina dan putumayang.

“Yang menarik, saat ijab kabul, pantun yang diucapkan dengan syair Bahasa Arab. Saat itu juga, masih dikenal nuneng-nuneng yang disewa untuk membujuk calon menantu yang masih menolak jodohnya. Populer dengan sebutan mak comblang,” ungkap Beceng.

Baca Juga :  Norhaini Minta Pemerintah Kembali Optimalkan Imunisasi pada Bayi-Anak

Dahulu, Rawa Belong dihuni penduduk asli Betawi dari Kampung Sukabumi Ilir. Pada tahun 1959, pendduknya berjumlah 3.000 jiwa.

Pendatang mulai masuk ke Rawa Belong sejak tahun 1972. Berasal dari Mangga Besar, Jakarta Pusat.

Mereka rata-rata masih ada hubungan keluarga. Tetapi, setelah pembangunan jalan aspal dalam proyek Muhammad Husni Thamrin (MHT) pada 1977 dilaksanakan di kawasan itu, penduduk dari luar pun mulai berdatangan.

Banyak di antaranya dari Padang Sumatera Barat, Arab, Tionghoa, Jawa, Batak, Aceh, Bima, Sunda, dan lain-lainnya.

Selain si Pitung, ada juga legenda Mat Item yang merupakan penduduk Rawa Belong yang memiliki kanuragan yang sangat disegani pada zamannya.