EKSEKUTIF

Jelang MotoGP Mandalika, Menko Airlangga: Pemerintah Terus Pantau Kesiapan

0
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Berita Golkar – Pemerintah memastikan perhelatan balap internasional MotoGP Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB) akhir pekan ini siap digelar.

Pemerintah telah selesai melakukan berbagai persiapan, termasuk kesiapan vaksinasi di NTB. Kesiapan vaksinasi untuk masyarakat NTB sudah melebihi target pemerintah.

Vaksin dosis pertama telah disuntikkan kepada 93,3 persen penduduk.

Vaksin dosis kedua telah mencapai 75,1 persen dan vaksin ketiga atau booster telah mencapai 4,5 persen.

“Terkait MotoGP ini sudah siap, terkait vaksinasi NTB, vaksin kesatu 93,3 lalu dosis kedua 75,1 persen,” ucap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam keterangan pers usai mengikuti Ratas Evaluasi PPKM yang ditayangkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (14/3/2022).

Selain itu, pemerintah menerapkan PPKM Level 1 di NTB.

Sehingga perhelatan balap motor dunia di Indonesia ini bisa digelar pada 18-20 Maret mendatang.

Tak hanya itu, Airlangga juga menyatakan pengaspalan ulang sirkuit sepanjang 1,6 kilometer itu sudah siap.

“Termasuk aspal ulang di T17-T5 sepanjang 1,6 kilometer,” katanya.

Diberitakan di media sebelumnya, menjelang perhelatan MotoGP, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong percepatan vaksinasi Covid-19 di kawasan Lombok, NTB.

Vaksinasi serentak digelar pada 12-17 Maret.

Program kegiatan vaksinasi itu dilakukan sebagai antisipasi adanya potensi ancaman Covid-19 dari kedatangan wisatawan lokal maupun mancanegara dalam perhelatan akbar skala dunia ini.

Baca Juga :  Menko Perekonomian Airlangga bertemu CEO Unilever Global Alan Jope di Bali

Sebanyak 50 vaksinator terbagi dalam sepuluh tim berangkat dari posko utama di Rumah Sakit Mandalika, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Tim yang terdiri dari 5 orang anggota itu juga didampingi oleh Babinsa dan Bhabinkamtibmas dari masing-masing desa guna membantu pengamanan sekaligus mengumpulkan masyarakat sebagai peserta vaksinasi.

Vaksin yang diberikan itu adalah vaksin dosis pertama, kedua maupun vaksin lanjutan atau booster dengan target 80 peserta dari masing-masing desa.

Jenis vaksin yang diberikan adalah Prizer, Moderna, dan Astrazeneca.

Masyarakat yang telah divaksin juga akan tercacat di Aplikasi PeduliLindungi dan memperoleh sertifikat digital.

Capaian Vaksinasi Dosis Kedua di Lima Provinsi Masih di Bawah 50 Persen

Tak hanya di NTB, Pemerintah terus mempercepat laju vaksinasi di seluruh Tanah Air.

Hingga saat ini masih terdapat dua provinsi dengan capaian dosis pertama di bawah 70 persen dan lima provinsi dengan capaian dosis kedua di bawah 50 persen.

“Capaian vaksinasi luar Jawa-Bali secara nasional masih ada dua provinsi yang dosis pertama capaiannya di bawah 70 persen, yaitu Papua Barat dan Papua.”

“Dosis kedua sebanyak lima provinsi yang capaiannya di bawah 50 persen, yaitu Sulawesi Barat, Maluku Utara, Papua Barat, Maluku, dan Papua,” ungkap Airlangga.

Baca Juga :  Menko Airlangga: Maksimalkan Potensi Daerah dan Percepat Penyerapan Anggaran Penanganan Covid-19

Pemerintah juga mendorong laju vaksinasi dosis lanjutan atau booster di luar Jawa-Bali yang saat ini tingkat capaiannya masih rendah.

Akselerasi vaksinasi juga dilakukan bagi kelompok lanjut usia (lansia). “Untuk booster, seluruh provinsi luar Jawa-Bali masih di bawah 10 persen sehingga ini perlu diakselerasi,” lanjut Menko Airlangga.

“Terkait dengan vaksinasi lansia masih ada enam provinsi yang di bawah 60 persen dosis pertama dan dosis kedua 24 provinsi di bawah 60 persen,” ujarnya.

Terkait situasi pandemi, Airlangga menyampaikan angka reproduksi efektif (Rt) secara nasional mengalami penurunan.

Sebelumnya, 1,09 persen menjadi 1,06 persen. Kemudian untuk tingkat kematian atau case fatality rate berada pada angka 2,58 persen.

Sedangkan untuk tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit atau BOR (bed occupancy rate) masih relatif terkendali.

Terdapat tiga provinsi yang memiliki kasus yang tinggi yaitu di atas 10 ribu.

Namun, BOR-nya masih memadai dan tingkat konversi tempat tidur untuk perawatan pasien Covid-19 juga masih rendah.

Ketiga provinsi tersebut adalah Sumatera Utara, Lampung, serta Papua.

Adapun provinsi dengan BOR yang relatif tinggi yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Yang perlu mendapat perhatian adalah NTT, di mana BOR-nya 46 persen dan Provinsi NTT masih di Level 3,” kata Airlangga.