LEGISLATIF

Legislator Golkar Minta Warga Manfaatkan Food Estate untuk Bantu Gizi Ibu Hamil

0
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Emanuel Melkiades Laka Lena.

Berita Golkar – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Emanuel Melkiades Laka Lena, meminta masyarakat memanfaatkan dengan baik program lumbung pangan atau food estate di Sumba Tengah untuk mengatasi kekurangan sumber pangan yang menjadi salah satu penyebab dari stunting.

Hal ini disampaikan Politisi Golkar ini dalam Kampanye Percepatan Penurunan Stunting bersama Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Aula Kantor Camat Katiku Tana, Sumba Tengah, Sabtu (7/10/2023).

“Untuk lumbung pangan atau food estate di Sumba Tengah ini dibuat untuk kita semua dan harus kita maksimalkan agar Sumba Tengah ini menjadi lumbung pangan di NTT. Kita mesti berbangga dan senang karena program ini ada di Sumba Tengah dengan berbagai plus minusnya dan tentunya belum sempurna. Tugas kita adalah memaksimalkan program ini agar berguna bagi masyarakat Sumba Tengah dan masyarakat NTT,” pinta Melki.

Menurut Melki Laka Lena, salah satu masalah stunting adalah akibat kekurangan sumber pangan bergizi bagi ibu hamil dan menyusui dan juga anak-anak.

Baca Juga :  Walau Hujan, Jalan Sehat Golkar di Bantul Mencapai 4.000 Peserta

Untuk itu ia meminta masyarakat memanfaatkan program food estate ini sehingga kebutuhan akan pangan bisa terpenuhi.

“Jadi kalau pangan disini sudah bagus maka kita punya sumber pangan yang variatif sebagai peluang buat kita untuk memaksimalkan program ini. Kita memiliki sumber daya alam yang cukup, yang kemudian bisa kita oleh dan kembangkan menjadi sumber makanan bergizi bagi ibu hamil. Untuk itu perlu untuk memanfaatkan hasil pangan yang ada agar bisa menjadi sumber makanan bergizi untuk menopang sumber gizi bagi ibu hamil maupun anak balita, karena kita mempunyai sumber pangan yang cukup bagus dengan hasil sumber daya yang memadai,” jelas Melki.

Melki Laka Lena menjelaskan, penanganan Stunting dilakukan dengan intervensi spesifik dan sensitif.

Intervensi spesifik menurutnya dilakukan pada sasaran ibu hamil dan anak pada 1000 Hari Pertama Kehidupan.

Sedangkan sasaran intervensi sensitif adalah masyarakat umum yang ditujukan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan.

“Karena itu peran lintas sektor sangat penting dalam penanganan stunting. Karena stunting juga bisa menurun ke generasi berikutnya bila tidak ditangani dengan serius, karena anak kurang gizi dalam waktu lama, pola asuh kurang efektif, dan pola makan, serta tidak melakukan perawatan pasca melahirkan, sehingga mengakibatkan gangguan mental dan hipertensi pada ibu hamil, serta faktor sanitas. Untuk itu perbaiki stunting sebelum usia 2 tahun dengan cara berikan ASI, perbaiki masalah menyusui, imunisasi rutin, serta memantau tumbuh kembang anak, dan perilaku hidup bersih dan sehat, hingga memakai jamban sehat, dan harus memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil, dan berikan Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan, dan dampingi ASI Eksklusif dengan makanan pendaping Air Susu Ibu (MPASI) sehat, dan terus memantau tumbuh kembang anak, dan selalu jaga kebersihan lingkungan,” jelas Melki Laka Lena.

Baca Juga :  Fraksi Golkar DPRD Pemalang Beri Saran Pemda Terkait Penanganan Sampah

Ketua Tim KB BKKBN NTT, dr Mauliwaty Bulo mengatakan, untuk mencegah agar anak tidak mengalami stunting dimulai dari 1000 hari pertama kehidupan sejak anak masih dalam kandungan.

Sementara Umbu Sawola, Kabid Keluarga Sejahtera Dinas Pengendalian Penduduk KB, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Sumba Tengah mengatakan, penanggulangan stunting menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya pemerintah tetapi juga setiap keluarga karena stunting dalam jangka panjang berdampak buruk tidak hanya terhadap tumbuh kembang anak tetapi juga terhadap perkembangan emosi yang berakibat pada kerugian ekonomi.