BERITAEKSEKUTIF

Menko Airlangga: Pemerintah Akan Impor Oximeter Penuhi Kebutuhan Dalam Negeri

0
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Berita Golkar – Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, Pemerintah berencana akan impor oximeter untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri yang kian menipis.

Sebagai informasi, Oximeter (pulse oximeter) adalah alat pengukur kadar oksigen dalam darah.

“Ada beberapa oximeter yang akan dimasukkan ke Indonesia, dan kalau sudah waktunya akan dijelaskan berapa jumlahnya secara logistik oleh Kemenperin,” ujar Menko Airlangga dikutip melalui pemberitaan pada salah satu media online, Kamis (8/7/2021).

Sama halnya seperti tabung oksigen, beberapa waktu ini oximeter banyak diburu masyarakat. Ini membuat ketersediaan alat pengukur kadar oksigen tubuh ini langka di pasaran.

Baca Juga :  Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto Terima Kunjungan Kerja Duta Besar China

Atas dasar tersebutlah, kata Menko Airlangga, Pemerintah berencana akan mengimpor oximeter. Namun, untuk saat ini masih dalam pembahasan soal berapa jumlah oximeter yang dibutuhkan, dan hal tersebut lebih lanjut akan ditangani oleh Kementerian Perindustrian.

Tarik Pasokan Oksigen Luar Jawa
Di samping itu, untuk ketersediaan tabung oksigen, saat ini Pemerintah melakukan penjemputan sebanyak 800 ton oksigen dari Batam untuk memenuhi kebutuhan di pulau Jawa.

“Terindentifikasi ada tambahan oksigen yang bisa ditarik dari pulau Batam 800 ton, dan sekarang ISO tank sudah dikirim kesana untuk ditarik ke pulau Jawa,” ujarnya.

Baca Juga :  Menteri KKP OTT, Ketua Komisi II Bicara Reshuffle Kabinet Jokowi

Sembari menunggu penjemputan oksigen dari Batam, Menko Airlangga menyebut bahwa beberapa ISO Tank oksigen dari beberapa daerah di luar Jawa sudah datang di Jakarta. Bahkan, saat ini dalam tahap persiapan untuk disalurkan kepada pasien Covid-19.

“Beberapa ISO tank sudah datang di Jakarta dan beberapa sedang dipersiapkan. Pemerintah menggunakan seluruh fasilitas yang ada, sehingga ketersediaan baik produksi nasional yang ada di Jawa maupun yang di luar Jawa semua ditarik,” pungkasnya.