DPP GOLKAR

Golkar Nomor Urut 4, Lodewijk: Mari Bangun Politik Menyatukan pada Pemilu 2024

0
Sekretaris Jenderal Partai Golkar Lodewijk F Paulus (kiri) saat di Kantor KPU.

Berita Golkar – Partai Golkar menilai bahwa pesta demokrasi atau pemilihan umum (pemilu) bukanlah ajang bagi partai politik untuk saling berkompetisi.

Bagi Partai Golkar, pemilu perlu dimaknai sebagai momentum antarpartai politik untuk bergembira dan saling mendukung.

“Alhamdulillah, pada hari ini kita bahagia, semuanya telah mendapatkan nomor. Artinya secara resmi, kita siap untuk saling mendukung, untuk memenangkan pemilu, bukan saling berkompetisi,” kata Sekretaris Jenderal Partai Golkar Lodewijk F Paulus di Kantor KPU, Jakarta, Rabu (14/12/2022) malam.

Baca Juga :  Golkar Dorong Pemerintah Sediakan STB Gratis untuk Masyarakat

“Mari kita saling memuliakan antara parpol untuk betul-betul kita menikmati pesta demokrasi yang akan kita laksanakan,” tutur dia.

Lebih lanjut, Lodewijk mencoba menjelaskan makna dari nomor urut yang diterima Golkar untuk Pemilu 2024, yaitu nomor 4.

Pada Pemilu 2019, Partai Golkar juga menggunakan nomor 4. Kata dia, nomor urut 4 memiliki banyak makna dari sisi numerologi atau keyakinan yang merujuk pada angka.

“Ternyata nomor 4 itu adalah nomor yang membawa rasa aman dan stabilitas. Bangsa kita perlu stabilitas dan tentunya keamanan,” imbuh Lodewijk.

Tak sampai di situ, makna angka 4 juga identik dengan kenyamanan layaknya orang duduk di kursi.

Lanjut Lodewijk, adapun kursi itu kini terus dicari Partai Golkar untuk mendapatkannya sebanyak mungkin.

Baca Juga :  Airlangga Hartarto Resmikan Gedung A DPP Partai Golkar

Kursi yang dimaksud di sini adalah kursi anggota legislatif maupun eksekutif.

“Yang penting jangan sampai ketiduran, nyaman sekali dan kita sedang mencari kursi-kursi baik untuk RI 1 maupun untuk di anggota DPR, baik DPR pusat, provinsi, maupun kabupaten kota,” terang Lodewijk.

Ia berharap, ke depan apa yang harus dibangun berkaca pada Pemilu 2019. Jangan sampai masyarakat terpecah dengan politik identitas dan terjadi polarisasi antara si A dan si B.

“Mari kita bangun politik yang menyatukan, politik yang membahagiakan, politik yang penuh dengan ide dan gagasan,” demikian kata Lodewijk.