DPD GOLKAR

Hari Ibu, Ketua IIPG Jawa Barat Ingatkan Peran Penting Ibu untuk Kemajuan Bangsa

0
Ketua Ikatan Istri Partai Golkar (IIPG) Jabar, Rita Fitria Ace Hasan Syadzily, berpose bersama peserta Kelas Pranikah IIPG Jabar usai memperingati Hari Ibu di Nara Park Bandung.

Berita Golkar – Ketua Ikatan Istri Partai Golkar (IIPG) Jabar, Rita Fitria Ace Hasan Syadzily, menyebut Hari Ibu jadi momentum untuk mengingat kembali peran-peran penting ibu dan perempuan dalam berbagai lini kehidupan, seperti peran perempuan dalam kehidupan keluarga, ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan dan agama.

“Bagi kita, perempuan yang berdaya (Empowered Women) itu tidak spesifik kepada perempuan yang berkarier atau bekerja dan mempunyai penghasilan,” katanya dalam kegiatan Kelas Pranikah IIPG Jabar dalam rangka memperingati Hari Ibu di Nara Park Bandung, pada Senin (18/12).

“Akan tetapi perempuan yang berdaya adalah perempuan yang memiliki kekuatan atau kemampuan memilih dan mengambil keputusan atas hidupnya sehingga dapat menjalankan kehidupan sesuai dengan keputusannya,” sambungnya.

Menurut Rita, perempuan yang mengenali potensi dan kekurangannya serta percaya diri dengan keputusan yang diambil akan berdampak positif bagi diri, keluarga, masyarakat, dan bagi perempuan di sekitarnya.

“Kita tahu, untuk menjadi ibu atau perempuan yang berdaya, ibu tidak bisa berdiri sendiri, melainkan membutuhkan support dari berbagai pihak, salah satunya adalah pasangan hidup, atau suami yang kelak akan menjadi partner dalam menjalani peran-peran tersebut,” ucapnya.

Dikatakan Rita, satu tahapan penting yang harus dilewati perempuan agar berdaya adalah kemampuan memutuskan kapan dan dengan siapa dia menikah.

Karena itu, kata dia, dalam rangka memperingati Hari Ibu, IIPG Provinsi Jawa Barat mengadakan Kelas Pranikah untuk para calon pengantin atau teman-teman yang sudah merasa siap untuk menikah, tidak hanya calon pengantin perempuan tapi juga laki-laki.

Baca Juga :  Golkar Aceh Tenggara Minta Distributor Pupuk Subsidi Jangan Melego

“Walaupun pada kenyataannya perempuan lebih banyak tertarik atau mempunyai inisiatif untuk mengikuti kelas pranikah ini,” sambungnya.

Dipaparkan Teh Rita, Kelas Pranikah sangat penting karena telah memberi pengetahuan penting atau semacam kisi-kisi untuk menjalani pernikahan sehat dan bahagia.

“Harapan kami, kelas pranikah ini akan menjadi pemantik bagi teman-teman semua untuk merefleksikan makna pernikahan dan mendiskusikannya dengan pasangan, menentukan visi misi terkait pernikahan seperti apa yang diharapkan dan pernikahan seperti apa yang tidak diinginkan,” paparnya.

Seperti, berdiskusi dan menyepakati tentang values yakni nilai-nilai inti yang dianut dalam menjalani pernikahan.

Karena pemahaman yang berbeda tentang nilai-nilai pernikahan akan menjadi pemicu terjadinya konflik.

“Banyak pasangan ketika memutuskan untuk menikah cluless (tidak memiliki petunjuk) tentang pernikahan, ada yang menikah hanya karena tuntutan keluarga atau tuntutan sosial,” katanya.

Diungkapkan Rita, banyak calon pengantin yang menikah hanya dengan spirit yang penting halal atau dengan alasan beribadah, atau untuk menyempurnakan agama.

“Tidak ada yang salah dengan prinsip itu, karena sebagai muslim kita memang harus mengakui bahwa menikah itu ibadah dan menyempurnakan sebagian agama kita,” tuturnya.

Rita menguraikan, kenapa menikah dikatakan sebagai ibadah dan penyempurna agama, karena ketika menikah akan menghadapi berbagai konsekuensi, berbagai perubahan peran dan tanggung jawab, yang jika dijalani dengan ilmunya baru akan bernilai ibadah.

Baca Juga :  Menko Airlangga: Pemanfaatan Big Data Dukung Capaian Pembanguan Nasional yang Inklusif

“Apa iya pernikahan menjadi ibadah jika di dalamnya terdapat KDRT (fisik maupun mental), pengabaian, tidak saling respek, tidak saling support bahkan pengkhianatan. Apa iya begitu ijab qobul dilaksanakan, agama kita lantas sempurna?,” lanjutnya.

Pernikahan Dini

Dijelaskan Rita, banyak hal yang harus dipelajari terlebih dahulu ketika akan memutuskan menikah, mengingat angka pernikahan dini di Jawa Barat masih sangat tinggi.

Kejadian tersebut, kata Rita, akan berimplikasi terhadap kesehatan ibu, kehamilan berisiko, kematian ibu melahirkan, anak-anak stunting dan lain-lain. Pernikahan dini juga akan berimplikasi terhadap tingginya tingkat perceraian.

Ia mencatat di Jawa Barat kasus pernikahan dini tertinggi berada di Tasikmalaya dan kedua Indramayu. Sementara angka perceraian tertinggi di Jawa Barat adalah Kabupaten Sumedang.

“InsyaAllah melalui berbagai materi yang sampaikan tersebut diharapkan dapat membantu teman-teman calon ibu dan calon bapak untuk berperan maksimal dalam menentukan kualitas anak dan generasi bangsa,” tuturnya.

“Kami atas nama IIPG Jabar menyampaikan terima kasih untuk para nara sumber yang bersedia untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada teman-teman calon pengantin dan juga kepada ibu-ibu IIPG sebagai pengantin lama,” sambungnya.

Karena pada hakikatnya pernikahan itu, ujar Teh Rita, adalah belajar sepanjang hayat, kita bertumbuh, pasangan bertumbuh, anak-anak bertumbuh, lingkungan juga bertumbuh.

“Kami yakin materi-materi yang disampaikan para narasumber juga sangat bermanfaat dalam rangka memajukan perempuan dan ibu dalam membangun generasi ke depan yang lebih bak,” pungkasnya.